Rabu, 18 Maret 2009

MASUK TV YA, BAYAR BERAPA?

Setiap habis disiarkan media massa baik majalah, tabloid, talkshow di radio ataupun televisi, pertanyaan yang selalu mampir di telinga adalah:"kok bisa masuk situ, bayar berapa?'. Sungguh pertanyaan yang membuat bingung menyikapinya, sebab dengan adanya pertanyaan seperti itu, berarti dianggap (lebih tepatnya dido'akan) punya banyak uang; walau sebetulnya di hati kecil ada perasaan 'tidak rela', karena seolah bisa masuk liputan tersebut lantaran bayar, bukan karena usaha yang dirintis 'jungkir balik'. Lhah, kalau bayar kan siapa saja yang berduit bisa diliput ya? Dan, hanya yang berduit yang bisa 'ngetop'?. Akhirnya, pilihan terbaik adalah menjawab dengan jujur sejujur-jujurnya dengan :"Alhamdulilah kami tidak keluar uang sepeserpun". "Masak sih? Masuk halaman majalah full colour gitu? Masuk TV dengan durasi sampai 2.31 menit gitu? dll. Yup! Semua gratis, asal tahu caranya. Yuk kita bongkar :
1. Buat usaha yang unik. Kecil dulu tidak jadi soal yang penting terkelola dengan sungguh-sungguh dan inspiratif. Contoh : salon muslimah, penyewaan traktor dikombinasi dengan usaha tanaman hias, laundry kiloan, warnet yang unik karena sering adakan lomba ngeblog dll.
2. Ikut komunitas wirausaha yang walaupun kelihatannya belum terlalu besar tapi punya banyak link ke media massa atau pengurusnya rajin membuat link ke sana. Bahkan ada baiknya komunitas itu yang 'imut' dulu, sebab perhatian ke anggotanya akan lebih intensif. Contoh : IES (Indonesian Entrepreneur Sicoety). 
3. Banyak-banyak mempublikasikan diri, terutama lewat internet agar mudah ditemukan oleh mesin pencari. Karena masih merintis, yang otomatis masih harus banyak berhemat, jangan pakai yang berbasis bayar. Pakai yang gratisan dulu, atau bila terpaksa harus bayar, usahakan seminimal mungkin. Misal : buat blog sebagai pengganti website, sekarang kan banyak blog yang gratisan; tulis di-blog-blognya orang lain kalau pas jalan-jalan, pasang iklan di internet (sebanyak-banyaknya) asal yang gratisan...
4. Jalin silaturahmi sebanyak-banyaknya, ini juga bisa didapatkan bila menjadi anggota komunitas.
5. Rajin sedekah, karena barang siapa menolong yang ada di bumi, maka yang ada di langitpun akan menolongnya. 
Mass media biasanya saling kait-mengkait. Misalnya : ketika talk show di radio ada wartawan majalah yang mendengarkan, akhirnya menghubungi untuk wawancara. Begitu juga sebaliknya. Maka tak ayal lagi, bila pernah dimuat di satu media, biasanya akan dilanjutkan dengan kemunculan di media-media lain. 
Perlu bukti?
Selamat menjadi selebriti dadakan dengan usaha 'imut'nya (yang imut selalu punya potensi menjadi besar. Amiin...)

1 komentar:

Yanti Suud mengatakan...

Assalamu'alaikum...
Wah...ternyata dekat rumah, kapan-kapan saya mampir ya...sambil membangun network.
Alhamdulillah, indahnya silaturahmi meski lewat dunia maya...